Friday , February 16 2024
Home / Daerah / S I A K / Lebih dari 500 Orang Masyarakat Suku Sakai Mulai Jalan Kaki, 1 Orang Pingsan

Lebih dari 500 Orang Masyarakat Suku Sakai Mulai Jalan Kaki, 1 Orang Pingsan

KANDIS, BerkasRiau.com – Lebih dari 500 orang masyarakat suku Sakai berjalan kaki dari Kandis menuju Pekanbaru. Setelah 3 Km berjalan, seorang peserta aksi jatuh pingsan.

“Kita sudah berjalan sejauh 3 Km dan saat ini kita sedang beristirahat di masjid Annaba’ Kecamatan Kandis. Tadi ada satu orang peserta perempuan yang pinsan dan harus dilarikan ke Puskemas Kandis,” ujar Dapson, pimpinan aksi jalan kaki via seluler Pukul 13.00 WIB siang ini.

Dijelaskan Dapson, aksi jalan kaki tersebut dimulai pada Pukul 11.00 WIB tadi yang berangkat dari Masjid Alhidayah Kelurahan Kandis.

“Aksi jalan kaki ini kita lakukan karena selama ini kita tidak didengar. Kita telah mengadu kemana-mana dan sudah sampai ke Bupati Siak, namun tidak ada solusi. Sekarang kita mau mengahadap Gubri,” ujar Dapson yang akrab dipanggil Sony tersebut.

Dua tuntutan yang diajukan PSSM kepada Gubernur Riau, yaitu meminta Gubernur Riau untuk memfasilitasi penyelesaian sengketa tanah ulayat Suku Sakai dengan PT Ivomas Tunggal dan meminta Gubernur Riau untuk memperhatikan nasib anak suku Sakai sebagai suku asli masyarakat Riau, terang Mahasiswa UIN tersebut.

Menurut Dapson, seluas 24.000 hektar tanah ulayat Suku Sakai yang terletak di Desa Kandis Proyek Sakai Kecamatan Kandis Kabupaten Siak, telah dirampas oleh PT Ivomas Tunggal yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1980.

“Pada tahun 1982, PT Ivo Mas Tunggal menyuruh masyarakat Sakai untuk mengisi polibet bibit sawit dengan janji masyarakat akan mendapat kebun kelapa sawit. Tetapi hingga sekarang kebun kelapa sawit tersebut tidak kunjung diterima masyarakat,” ujar Dapson yang merupakan masyakat asli Suku Sakai.

Tidak mau menyerahkan kebun jadi, PT Ivomas Tunggal meminta kepada masyarakat suku Sakai untuk kembali menyerahkan lahan kosong guna ditanam kelapa sawit dengan pola kemitraan (KKPA), ungkap Dapson.

“Lahan mana lagi sekarang yang tersedia, semua sudah dirampas oleh pemilik modal,” tandas Dapson. (ndi).

Editor: Defrizal

print